<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790</id><updated>2011-08-01T14:58:01.213-07:00</updated><title type='text'>pradhabasu</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-7233680059259058134</id><published>2010-06-24T00:22:00.000-07:00</published><updated>2010-06-24T00:45:24.561-07:00</updated><title type='text'>Gelisah</title><content type='html'>Ingin sekali mencaci maki dirimu. Kau jamah setiap tubuh wanita yang terlena akan keperkasaanmu. Andai mereka mengerti apa yang kurasakan kini. Ah... tapi, aku rasa tidak mungkin mereka mengerti hidupku yang antah berantah ini. Mengejar nafsu duniawi yang seakan tak pernah lelah memburu celah hati manusia yang rapuh. Tidak pernah sekalipun aku menyalahkan dirimu. Meskipun seluruh dayang-dayangmu memaki aku. Kau masih tetap di hatiku Langit! Benci. Tak pernah ada dalam kamus hidupku membenci dirimu. Tak ada sedikitpun. Ingin sekali bertemu denganmu. Memberi tahu tentang keberadaanku saat ini. Aku bilang diriku hamil. Dayangmu marah sungguh luar biasa. Adakah rasa lebih dayangmu itu Langit terhadap dirimu. Aku hanya tertawa dalam bathin yang penuh rindu. Seharusnya dayangmu tak perlu gusar. Aku memang tidak hamil. Paling tidak aku pernah tidur denganmu. Itu sudah lebih dari cukup buat hidupku. Menghapus sosokmu adalah gila dalam hidupku. Karena aku sangat mencintai dirimu. Dayangmu membenci aku. Hanya penciptaku yang boleh menilaiku. Aku harap dayangmu tahu diri. Mereka tidak bisa mengadiliku dengan cara apapun. Kalau dayangmu iri. Tidurlah dengan dayang-dayangmu Langit. Agar sirna rasa iri di hati mereka!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin menata hidupku menjadi lebih baik lagi. Ku kunci gelisah di dadaku. I love u El...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-7233680059259058134?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/7233680059259058134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/06/gelisah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/7233680059259058134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/7233680059259058134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/06/gelisah.html' title='Gelisah'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-8225431402636650218</id><published>2010-03-01T19:07:00.001-08:00</published><updated>2010-03-01T19:39:28.472-08:00</updated><title type='text'>Rasa Ri</title><content type='html'>Ria ingin sekali beranjak pergi menghindar dari rasa yang membelenggunya. Rasa yang membuat dirinya terluka. Dari status penulis pun seharusnya Ria sudah bisa mengerti kalau rasa ini memang harus beranjak pergi dari hatinya. Ria ingin sekali mengungkapkan rasa ini pada semua orang yang mengenalnya. Tapi, Ria sangat mengerti dengan kondisi penulis. Ria amat sangat tidak ingin karier penulis itu hancur dengan keberadaan dirinya.&lt;br /&gt;     Berawal guyon dari sang penulis ke inboxnya. Yang menggiring Ria jatuh hati kepada sang penulis. Meski usia Ria terpaut amat sangat jauh. Ria tidak bisa melupakan pertemuan mereka. Yang seharusnya bisa Ria hindari. Ria, sering kali terkoyak hatinya jika sang penulis sms atau menghubungi dirinya lewat handphone. Ria adalah perempuan yang sulit jatuh cinta. &lt;br /&gt;     “ Kalau aku ke Jakarta tak traktir makan ya?” Elang lewat pesan inboxnya.&lt;br /&gt;     “ Tersanjungnya bisa ketemu orang terkenal.” gemuruh jantung Ria saat membalas lewat inbox pertemanan mereka di Facebook.&lt;br /&gt;     Dari situlah awal rasa yang membuat Ria saat ini linglung. Ria mencintai Elang dengan segenap jiwa. Ria saat ini hamil. Namun, Ria tidak menceritakan kepada Elang tentang keadaannya saat ini. Apalagi saat ini Elang baru meluncurkan novel terbarunya. Ria tidak ingin merusak situasi yang akan memperburuk keadaan. &lt;br /&gt;     Seandainya aku bisa bertukar rasa yang aku punya itu sudah lebih dari cukup. Itulah penggalan tulisan yang Ria tulis di buku hariannya. Ria tidak pernah menyangka semua akan terjadi seperti ini. Pertemuannya dengan Elang memang menentang batas norma asusila. Namun, rasa yang ada pada diri Ria tidak bisa di ajak kompromi saat itu. Ria, tidak mengharuskan Elang bertanggung jawab. Ria hanya ingin Elang mengetahui keadaannya. &lt;br /&gt;     “ Apa kabar? Kamu sehat kan?” suara Elang yang menggelegar menyapu ruang hati Ria.&lt;br /&gt;     “ Kabar baik. Aku sehat.” Ria menjawab sekenanya. Tak terasa sebutir air matanya jatuh. Ria mencoba bertahan agar Elang tak mendengar isak tangisnya karena rasa rindu. &lt;br /&gt;     Mencoba menguasai keadaan. Itulah yang sering Ria lakukan saat Elang menghubunginya. Ria sangat mencintai Elang sepenuh hati. Ria galau memikirkan janin yang berada di gua garbanya. Tapi, Ria bukan perempuan yang lemah. Ria tak bergeming. Ria bersiap untuk meninggalkan kota kelahirannya. Ria akan pergi dari Jakarta tanpa sepengetahuan Elang.&lt;br /&gt;     “ Ri, seharusnya lo bilang ke Elang tentang keadaan lo. Lo harus ingat kalo itu darah dagingnya Elang.” nasehat Rani saat Ria berkeluh kesah.&lt;br /&gt;     “ Gue ga tega Ran. Elang punya keluarga. Gue bisa memahami seperti apa kalau mereka tahu kalo Elang punya WIL yang ternyata datang dari penggemarnya sendiri. Biar gue aja Ran yang menyingkir dari hidupnya Elang. Gue rasa itu lebih baik.” begitu gamblang jawaban Ria.&lt;br /&gt;     “ Enak ya kalo kaum pria ketemu perempuan seperti lo. Bisa meninggalkan benih mereka di mana-mana tanpa harus bertanggung jawab.” protes Rani. &lt;br /&gt;     “ Ran, kalo dia bukan Elang pasti gue akan ngikutin apa yang lo bilang. Tapi, gimana caranya gue menghindar dari Elang ya Ran? Gue kangen banget ama dia.” isak Ria.&lt;br /&gt;     “ Jangan nangis dong Ri. Gue cuma bisa doa'in yang terbaik buat lo.” Rani membusai poni Ria yang basah terkena basahan air mata.&lt;br /&gt;     Ria yang cuek ternyata juga perempuan rapuh. Itu menurut Rani. Ria yang terhempas terbawa ke ruang imajinasi yang terbawa menjadi kenyataan. Memang sulit di pungkiri. Ria lupa dan terlena di hamparan kasih sayang Elang yang belum tentu jadi miliknya. Rasanya belum terlambat jika Ria menyadarinya saat ini. Banyak jalan menuju Roma. Itulah yang berada di benak Rani saat ini.&lt;br /&gt;     “ Ada apa dengan Ria? Rautnya bermuram durja gitu.” selidik tante Helmi.&lt;br /&gt;     “ Ria hamil ma!” jawab Rani cuek.&lt;br /&gt;     “ Hamil? Ama siapa? Yang jelas dong Ran!” tante Hemi memberondong pertanyaan pada anak sulungnya.&lt;br /&gt;     “ Elang!” jawab Rani sekenanya.&lt;br /&gt;     Tante Helmi bagi Ria sudah seperti ibunya sendiri. Namun, kali ini Ria menyimpan file kisahnya sendiri. Ria yang selalu tergelak jika sedang berseloroh kepada siapa pun lawan bicaranya. Kali ini pucat mematung. Matanya sembab. Ria menangis bukan karena dirinya hamil. Tapi, karena Ria takut Elang akan meninggalkannya. Ria, yang kerap selalu trengginas menghadapi masalah yang menderanya.&lt;br /&gt;     “ Jangan bodoh Ri! Elang itu bapaknya! Elang harus tahu sekarang ini kamu berbadan dua!” tante Helmi sengit mengetahui keadaan yang membuat Ria terasa jauh dari genggaman ibu beranak empat ini.&lt;br /&gt;     “ Elang ga salah tante. Ria, aja yang ga tau diri. Ria, tau kalo Elang udah berkeluarga. Tapi, Ria tetap berhubungan sejauh ini.” Ria membela posisi Elang yang bersalah.&lt;br /&gt;     “ Ri, pernah ga terlintas kamu menggugurkan anak itu?” tanya tante Helmi tegas.&lt;br /&gt;     Ria menggeleng tegas. Ria punya hati seputih kapas dan sedingin salju. Itu kata Andri sahabat yang kerap kali memanggilnya kampret. Panggilan kesayangan kata Andri. Ria juga punya nama panggilan yang membuat Andri keki seumur hidup. Ria memanggilnya Minak Jinggo. &lt;br /&gt;     “ Jadi, maunya kamu gimana Ri?” tanya tante Helmi tenang. Di ciumnya kening Ria dengan segenap jiwa. Yang membuat Rani terkadang iri dengan perilaku mamanya terhadap Ria. Tapi, Rani sangat mengerti kalau sahabat yang sejak saat SD ini sedang membutuhkan mamanya. Sosok yang tidak lagi di miliki Ria. &lt;br /&gt;     Air mata Ria mengalir begitu saja. Mata di ruangan itu tertuju pada sosok yang tiba-tiba datang tak di undang.&lt;br /&gt;     “ Kampret kenapa lo? Ko gue datang ga di sambut sih!” cerocos Andri kesal.&lt;br /&gt;     “ Gpp. Dari mana lo? Gue tadi sms ga di balas.” Ria langsung mencoba mengalihkan perhatian Andri dari raut wajahnya yang tak bisa di sembunyikan lagi.&lt;br /&gt;     “ Lo nangis ya?” sambil mengacak-acak rambut Ria. Andri bingung dengan kelakuan sahabatnya sekaligus orang yang selama ini mengisi relung hatinya ini.&lt;br /&gt;     “ Minak Jinggo sok perhatian lo!” sungut Ria. Dalam hati Ri bahagia karena masih ada sahabat sebaik Andri di dunia ini.&lt;br /&gt;     “ Dasar kampret! Lo kenapa sih? Gue tau lo ada masalah besar. Kenapa sih ga cerita?” Andri memeluk Ria dengan kasih sayang.&lt;br /&gt;     Andri punya rasa yang indah untuk seorang Ria Pradhabasu. Ria yang di kenalnya ga pernah kelihatan sedih. Selalu tergelak jika ada celoteh yang lucu. Andri sering kali mengejek nama Ria yang aneh. Pradhabasu di tambahkan sendiri oleh Ria. Ria gemar membaca novel sejarah. Ria yang amat sangat Cinta Mati pada sosok Gajah Mada. Di novel Gajah Mada inilah Ria mengenal sosok Pradhabasu ciptaan penulis ternama Langit Kresna Hariadi. Andri yang jatuh hati dengan Ria. Tidak pernah berani menyatakan rasanya. Karena sangat berat saat mengetahui kriteria pria dalam hidup Ria. Ria ingin punya pacar seperti Gajah Mada. Apalagi Ria punya semua buku tentang riwayat Gajah Mada dari A sampai Z. Bahkan Ria mudeng sepak terjang sang Maha Patih di dunia masa silam itu.&lt;br /&gt;     “ Cerita ya? Lo ga bisa diam gitu terus.” bujuk Andri si Minak Jinggo. Minak Jinggo adalah tokoh dari novel Perang Paregrek yang juga di tulis Langit Kresna Hariadi. &lt;br /&gt;     “ Gue mau cerita. Tapi, dengan syarat ya? Lo cariin gue suami. Suami yang baik. Jangan lupa ya! Yang keren kaya Gajah Mada.” tergelak akhirnya Ria.&lt;br /&gt;     Tanpa di sadari Andri mengecup kening Ria dengan hangat. Ria tak bergeming dari tempatnya semula. Berpikir keras dengan apa yang Andri lakukan kepadanya. Andri hanya tersenyum seraya memohon Ria agar mengerti isi relung hatinya. Ria yang tidak tanggap dengan keadaan sangat bingung. Apalagi Andri mengecup keningnya di hadapan Rani dan tante Helmi. Hati Rani teriris perih. Tante Helmi yang mengerti Rani memeluk anak sulungnya.&lt;br /&gt;     “ Kampret mau kan lo jadi istri gue?” tanya Andri serius sambil menatap matanya yang sembab. Rani makin erat memeluk tante Helmi. Ria semakin bingung. Apalagi masalah yang di hadapi Ria bukan masalah yang ringan. Dirinya hamil.&lt;br /&gt;     “ Gue bukan orang tepat untuk di jadikan orang untuk menempati hati lo yang kosong. Minak Jinggo, sahabat lo ini hamil.” Ria menerangkan keadaan dirinya dengan gamblang. &lt;br /&gt;     “Hamil! Lo hamil ama siapa? Lo udah punya pacar? Lo ko ga cerita ama gue?” pertanyaan terus meluncur seperti orang kebakaran jenggot.&lt;br /&gt;     “ Maaf. Gue ga pernah cerita. Gue saat ini punya hubungan tanpa status dengan orang terkenal. Lo pasti ga percaya. Gue punya hubungan kaya gini. Hubungan gue udah terlalu jauh Jing!” Ria menatap kedua mata Andri dengan rasa bersalah. Ria mencoba menceritakan awal pertemuannya dengan Elang. Penulis novel terkenal yang juga merupakan pujaan hati.&lt;br /&gt;     “ Elang tau keadaan lo? Dia harus bertanggung jawab Ri! Anak lo harus lahir dan mengenal ayahnya.” Andri berujar dengan gusar.&lt;br /&gt;    “ Gue ga mau merusak kebahagian keluarganya Jing! Gue selingkuh ama Elang aja udah hal yang salah banget. Gue sayang banget Jing ama Elang. Gue ga mau kariernya hancur hanya karena seorang cerpenis dari kasta terendah kaya gue.” Ria berusaha agar Andri yang kerap di panggil Jing ini mengerti seluruh pikirannya.&lt;br /&gt;     Andri mencoba menyelami hati Ria sampai pada dasarnya. Andri menggenggam kedua telapak tangan Ria. Andri ingin sekali memberi tahu kalau dia sejak lama ingin memindai rasanya kepada Ria. Ria yang cuek tidak tanggap dengan kehadiran Andri yang selalu ada untuk Ria. Ketika Ria membutuhkan seseorang yang bisa di ajak untuk melanglang buana ke dunia impian Ri tentang sejarah. &lt;br /&gt;     “ Menikahlah ama gue Ri. Gue akan menerima lo apa adanya. Ri, biarkan gue jadi ayah dari janin lo saat ini. Gue sayang ama lo Ri. Sejak pertama kali gue udah jatuh cinta ama lo. Kalo lo masih ingat 21 Juli 1986 saat itu. Pertama kali liat lo udah jatuh cinta. Lucu kali ya buat lo. Tapi, itu gue Ri.” cerita Andri panjang lebar dengan hati yang sedang jalan-jalan menunggu jawaban sang pujaan hati.&lt;br /&gt;     Ria menarik nafas sedalam-dalamnya untuk mengosongkan ruang jiwanya yang penat. Mencoba melaju cepat berlari ke masa lalu. Tergelak saat itu. Ria yang tidak pernah berpikir kalau Andri mencintai dirinya sejauh itu. Ria yang tersadar kalau ada hati yang teriris perih jika dia mengiyakan Andri untuk melabuhkan hatinya. Ria bukan perempuan picik. Ria mengetahui rasa yang Rani punya untuk Andri.&lt;br /&gt;     “ Ada yang lebih ok dari gue Jing. Hatinya lebih putih. Seputih hati nyai pohaci. Selembut Sunan Ambu di dunia sana. Dia mencintai lo. Sedalam cinta lo ke gue. Rani lebih cocok jadi pendamping lo. Gue adalah sahabat lo. Gue memang membutuhkan sosok ayah untuk bayi ini. Tapi, gue kan bisa jadi single mom. Gue bisa mengurus hati dan jiwa gue. Gue bisa lebih bahagia jika kalian bahagia.” Ria menerangkan alasannya panjang lebar sambil menatap langit yang mendung sore itu.&lt;br /&gt;     “ Bahagianya Elang. Bisa membantai hati lo yang putih itu.” Andri si Minak Jinggo sinis.&lt;br /&gt;     “ Cinta dan rasa gue udah nyasar di ruang imajinasi tingkat tinggi.” hibur Ria dengan tersenyum kepada seisi ruangan tersebut.&lt;br /&gt;     “ Gue tetap akan menikahi lo. Apa pun yang terjadi. Masalah Rani biar gue bicarakan lagi. Hati gue juga ga bisa di pindah tangankan kaya bel di klopencapir jaman pak Harto dulu.” Andri tersenyum tetap pada pendiriannya.&lt;br /&gt;     Ria bergegas mengambil handphonenya saat sebuah ring tone suara Kang Mas Prabu dari negeri antah berantah terdengar. &lt;br /&gt;     “ Hallo! Kamu dimana? Lagi apa? Jangan kluyuran ya! I love you Ria.” itulah telepon yang selalu Ria tunggu dan rindukan. Ria sangat bahagia walau hanya suara yang membahana yang bisa menghiburnya.&lt;br /&gt;     “ Hallo! Lagi di rumah. Aku ga ke mana-mana. Kalo ke Gramedia aja boleh kan? I love you too.” jawaban ini selalu di akhiri Ri dengan senyum terindahnya. Senyum yang buat Andri si Minak Jinggo berang. &lt;br /&gt;     Rasa sering kali menggilas rentang waktu yang tak berujung. Apalagi rasa di terjemahkan cinta buta. Yang jarang pakai logika. Kesannya jadi kaya anak ABG yang keranjingan cinta. Itulah yang membuat hati Ria jadi porak poranda. Cinta Ria setinggi langit. Sedangkan Cinta Elang semendung awan. Jadi carut marut dunia percintaan milik mereka  ini. Ada serangkaian kata yang di ungkapnya di buku hariannya. Jangan kau beri rasa ini. Rasa yang akan menyiksa aku dalam pengembaraan hidup. Kau beri aku rasa bersalah yang membuat aku mati rasa. Aku takut dengan rasa yang ada. Aku mengerti sebab akibat rasa ini menjadi lara. Biarkan aku menggapai imajinasimu. Melepasmu hidupku terasa hambar tak berbumbu. Terluka kah aku dengan rasa yang aku punya sejak hari ini. Di antara bias kasihmu untuk ku. Tidak kau mengerti ketulusan yang aku punya. Rasa ini ada sebelum aku bertemu dirimu. Imajinasiku terlalu tinggi sampai aku bisa menembus reinkarnasi berikutnya. Biarlah rasa ini menepi dari kesendirianku. Aku sudah cukup bahagia berada di antara bayang kasihmu untukku. Bersamamu seperti melewati cakrawala. Takut waktu segera berlalu. Mencintaimu laksana menjadi puragabaya. Yang harus meredam rasa yang aku punya. Yang hadir tidak pada tempatnya. Bersamamu begitu indah. Meski sang waktu trus berlari mengejar akhir...&lt;br /&gt;     Ria sangat takut kehilangan Elang. Elang yang membuatnya bisa tersenyum menyambut gegap gempitanya dunia. Sedangkan Elang tidak tau ada dimana saat ini. Kemungkinan sedang melabuhkan rasa di tempat yang berbeda. Ria terpaku dalam kesunyian yang membawa dirinya ke alam sadarnya. Ria harus pergi.&lt;br /&gt;     Dua minggu setelah itu Andri panik. Andri kehilangan jejak sahabat baiknya sekaligus jantung hatinya. Ria benar-benar meninggalkan Jakarta. Telepon genggamnya pun tidak dapat di hubungi. Andri benar-benar patah arang. Andri hanya memandangi layar komputer lipatnya. Dirinya sedang kluyuran di situs pertemanan Facebook. Tiba-tiba hatinya sumringah ketika ada satu pesan di inboxnya dari Ria.&lt;br /&gt;     “ Apa kabar Minak Jinggo? Kabar gue baik-baik aja. Sepi juga ya ga tempur ama lo. Hehehe.... :)” itulah gaya Ria menyapa Andri.&lt;br /&gt;     “ Kampret.... lo dmn???? #-o” tembak Andri dengan pertanyaan pamungkas. Agar dia tahu dimana keberadaan sang gadis impian.&lt;br /&gt;     “ Yang jelas di dunia. Tepatnya di Indonesia wkwkwkwk.... :))” balas Ria tergelak. Yang membuat Andri makin di buat penasaran.&lt;br /&gt;     “Dimana? Jangan buat khawatir donk....:((” Andri benar-benar khawatir.&lt;br /&gt;     “Gue masih di Jakarta ko :P Ria cuma senyum-senyum di warnet dekat kostnya yang baru.&lt;br /&gt;     “ Gue jemput ya? Lo kasih alamatnya ntar gue ke tempat lo... :( plizzz.. “ Andri berharap bisa bertemu dengan Ria.&lt;br /&gt;     “ Handphone gue udah gue aktifin ko hehehe... ntar telv ya :) bye :-*” inbox terakhir dari Ria. Yang terakhir membuat Andri bisa sedikit tersenyum melihat emotion smile yang Ri berikan untuknya.&lt;br /&gt;     “Ok :-* I miss u Ri.... “ Andri tetap membalas inbox tersebut. Walaupun kecil kemungkinan untuk di baca Ri saat ini. Sebelum log out Andri menyempatkan menelusuri profile Ri. Andri melihat kalau Ri menuliskan note sebelum mengirim inbox untuknya. Judulnya Isi Hati.&lt;br /&gt;     Nelangsa melewati batas waktu yang akan memisahkan dua insan. Mencari tempat persinggahan hati yang lara. Ku titipkan penat hatiku di antara pesan yang tertinggal. Meraih asa di himpitan rasa yang gamang. Tak bisa membaca kosa kata yang ku terima di antara rasa yang mendera. Lebih baik kembali ke garba sang bunda. Jika tak mengerti arah laranya hati yang terhempas. Berpacu dengan kecepatan. Menggilas waktu kepenatan. Berlari mengejar impian melalui kepakan sayap yang tersayat. Berkutat dengan waktu. Berjuang untuk kehidupan. Berlari dari bayangan semu. Menghampiri yang terjadi. Membunuh rasa yang ada. Jangan kau hadir saat ini. Jiwaku hambar dari rasa. Imajinasi yang terisolasi luka. Gerimis pagi mengundang rasa tak terbilang. Langkah menapaki pagi yang menyilangkan rasa yang ada. Mengusir rasa yang membuncah. Rasa segera lari tak terperi. Rasa sibuk terus berlari tanpa tahu dimana dia harus singgah. Berharap rasa tak pernah lagi singgah di raga ini. Biarkan nyawa ini tanpa rasa yang seharusnya. Biarlah rasa tak pernah berpijak di badan. &lt;br /&gt;     Di note tersebut banyak sekali yang berkomentar. Meskipun Ria hanya penulis cerpen junior. Bahasanya kadang membuat hati turun naik jika membaca kiasan kata-katanya. Ria sering mengisi note layaknya sebuah buku hariannya. Ria ingin sekali meninggalkan dan melupakan Elang. Ria butuh kekuatan yang cukup besar untuk mengambil keputusan itu. Bahkan harus mengorbankan beberapa hal termasuk kebahagian dirinya sendiri.&lt;br /&gt;     Ria ingin sekali menumpahkan segala yang ada. Begitu sempit ruang di hatinya untuk menampung masalah yang Ria miliki. Ria memiliki seorang ibu yang agak kolot pemikirannya. Ibunya sering memukuli Ria. Rasanya janggal jika masih ada ibu yang memukuli anaknya di usia anak memasuki 30 tahun. Damar salah satu sahabat Ria pernah terperangah saat melihat di pipi Ri ada goresan luka memanjang. Luka cakaran dari kuku Nawi. Tante Nawi kerap lupa diri jika marahnya tidak terkendali. &lt;br /&gt;    Rasa takut Ria terhadap ibunya bukan kepalang. Ria sangat butuh pelukan seseorang yang bisa menentramkan hatinya. Di antara ketakutannya Ria mengingat kalau Ria memiliki seorang sahabat lama. Sahabat yang selalu ada ketika Ria membutuhkannya. Ria mengambil HP dari saku celana jeansnya. Ria menghubungi sebuah nama.&lt;br /&gt;     “ Hallo Mar! Apa kabar? Gue mau ketemu lo. Gue ke Jogja sekarang ya? Ok!” Ri, memberi tahu sahabat kentalnya lewat telepon genggamnya.&lt;br /&gt;     “ Hallo Ria! Kabar gue baik. Lo datang dong! Ok! Gue tunggu ya... I miss u muach.” jawab Damar Pamilih lebih exited dari Ria.&lt;br /&gt;    Meski yang terbilang saat ini rasa indah. Tapi, yang tercipta di dasar hati hanya kerak luka. Menelusuri malamnya kota Yogyakarta. Di guyur hujan deras tak bisa mengungkungku di sekat pembatas untuk melanglang buana di alam nyata. Bahwa banyak asa yang terbentang di alam raya. Pangeran pujaan hati yang setia berada di setiap langkah. Mengikuti rasa yang tergerak di dengkulku saat ini. Harus ada sebuah hari yang indah untukku. Membuat hati terpenjara adalah sebuah sebuah kebodohan yang kerap singgah di dengkul. Walaupun sekat pembatas di terpa udara. Dengan kecepatan standar motor melibas derasnya hujan. Damar Pamilih menjemput Ria di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.&lt;br /&gt;     Di kota pelajar ini Ria mencoba mengintropeksi diri. Ria dengan seluruh asa yang terbentang di depannya. Ria sangat merindukan sosok Elang yang bijaksana. Namun, kebijaksanaan itu hanya dalam hubungan tanpa status yang mereka bangun. Ingin rasanya Ria marah dengan tindakan bodohnya beberapa waktu yang lalu saat pertama kali Ria berjumpa dengan Elang.&lt;br /&gt;     “ Kenapa?” tanya Damar Pamilih saat tanpa sadar Ria sedang meneteskan air matanya. &lt;br /&gt;     “ Eh, anter gue jalan-jalan dong... “ rajuk Ria berusaha menyimpan warna hatinya saat itu.&lt;br /&gt;     “ Kemana? Ke Pasar Bringharjo aja ya? Di sana banyak yang jual batik loh. Bisa untuk oleh-oleh.” celoteh Damar yang amat jarang terjadi. Damar Pamilih adalah sosok pemuda pendiam. Hanya dengan Ria dia bisa sedekat ini dengan perempuan.&lt;br /&gt;     “ Jalan sekarang aja yuk! Ga usah beli apa-apa. Kita muter-muter aja. Gue mau tinggal di sini aja. Gue betah ko di sini.” jawab Ria tak kalah seru dari Damar Pamilih.&lt;br /&gt;     “ Ada apa sih Ri? Kayaknya ada yang aneh deh lo bisa sampai ke Yogyakarta.” Damar Pamilih mencoba mencari benang merah kedatangan sahabatnya ini. Damar Pamilih mengusap-usap punggung Ria seolah mengerti keadaan sahabatnya ini.&lt;br /&gt;     “ Mar... Lo pernah kepikiran ga untuk menikah?” tanya Ria tiba-tiba seperti petir saat cuaca cerah.&lt;br /&gt;     “ Maksud lo? Menikah? Kalo menikahnya ama lo gue mau.” seloroh Damar Pamilih dengan mimik yang serius.&lt;br /&gt;     “ Hahaha... emang lo mau menikahi orang yang sedang hamil? Ria tegelak meluluh lantahkan puing-puing kesedihannya.&lt;br /&gt;     “ Perawan atau tidaknya seseorang buat gue ga penting. Gue ga mau menikah karena persoalan sepele. Selaput darah yang robek di saat malam pertama tidak akan menjamin kebahagiaan pasangan suami istri. Gue yakin banget. Gue juga ga mau memaksa lo untuk cerita ama gue siapa ayah janin lo itu.” Damar menjelaskan semua keinginan hatinya yang terpendam sejak dua belas tahun yang lalu.&lt;br /&gt;     “ Gue hamil itu ga penting buat gue. Gue cuma lagi bingung gimana kalau anak gue lahir dan menanyakan sosok ayahnya. Meskipun gue terluka. Gue ga pernah menyesal dengan semuanya.” Ria membuat pernyataan tersebut dengan tatapan yang menggerataki wajah Damar Pamilih.&lt;br /&gt;     Pada tahun 1998 Ria pertama kali bertemu dengan Damar Pamilih. Mereka bekerja sebagai Housekeeping di PT. Mulia Persada Tata Lestari. Di sinilah mereka menghabiskan sebagian waktu mereka untuk bercengkrama dan tergelak bersama. Sosok Damar Pamilih yang cool abis membuat Ria terpancing untuk mendekatinya. Damar Pamilih yang jahil sering membuat Ria histeris ketakutan. Karena kejahilannya Ria pernah kesetrum di janitor.&lt;br /&gt;     “ Sebaiknya kita kembali ke Jakarta besok. Gue mau bilang orang tua gue untuk melamar lo. Ayo cepat siap-siap kalo mau di anter ke pasar.” Damar Pamilih tersenyum ringan.&lt;br /&gt;     Ria menatap Damar Pamilih dengan seribu pertanyaan. Dua belas tahun yang lalu Ria menaruh rasa lebih untuk Damar Pamilih. Meskipun rasa itu sangat besar. Ria tak pernah sekalipun menunjukannya pada Damar Pamilih. Ria tak menyangka kedatangannya ke kota pelajar justru malah mendapatkan impian dua belas tahun yang lalu. Dan yang menarik rasa yang Ria punya untuk Elang hilang dalam sekejap.&lt;br /&gt;     “ Jangan bengong dong!” kata Damar Pamilih yang membangunkan Ria dari jalan-jalannya di mimpi yang silam itu.&lt;br /&gt;     “ Tapi... “ Ria yang masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya seperti mimpi di siang bolong.&lt;br /&gt;     Selama di perjalanan Ria terdiam. Serasa masih berada di alam mimpi. Damar hanya tersenyum melihat sahabat dan juga calon istrinya ini terdiam selama dalam perjalanan ke Pasar Bringharjo.&lt;br /&gt;     “ Udah... Ga usah jadi banyak mikir! Kasian tuh baby.” Damar Pamilih menghibur Ria.&lt;br /&gt;     “ Ga percaya. Kaya mimpi. Maksud hati datang ke sini karena mau menghibur dari kepenatan hidup gue. Malah dapat berita kayak gini. Lo pasti ga percaya kalo gue cerita.” Ria mulai berani membuka mulutnya menjelaskan apa yang terjadi di pergolakan hatinya.&lt;br /&gt;     “ Jangan melakukan tindakan bodoh lagi yang merugikan diri sendiri ya! Kenapa juga ga pernah cerita kalo lo suka bahkan cinta ama gue dua belas tahun yang lalu?” todong Damar Pamilih seakan mengerti sepak terjang gadis yang berada di sampingnya ini. &lt;br /&gt;     “ Ups... Sok tau lo.” Ria berusaha lari dari kenyataan.&lt;br /&gt;     “ Lo yang sok tau! Pernah ga kepikir juga kalau gue juga suka ama lo bahkan cinta. Pasti ga kan? Ngaku! Damar Pamilih yang pendiam lebih aktif berbicara dari pada si beo Ria yang terkenal bawel apalagi dengan logat betawinya. &lt;br /&gt;     “ Serius?” Ria menatap Damar Pamilih lebih lekat.&lt;br /&gt;     “ Ya.” Damar Pamilih mengangguk.&lt;br /&gt;     “ Kenapa ga bilang?” tanya Ria penasaran.&lt;br /&gt;     “ Menurut gue lo adalah perempuan yang berbeda dari perempuan yang pernah gue kenal. Lo suka ama gue. Gue tau. Cuma yang bikin gue benar-benar bisa cinta ama lo. Saat Wina jadian ama gue. Lo dengan amat sabar melihat kedekatan dan kemesraan gue dan Wina. Gue ngerti banget saat itu lo hancur. Sampai saat ini ga ada pria yang bisa mengisi hati lo yang kosong. Dan akhirnya lo ketemu Elang. Penulis yang selalu melabuhkan hatinya kepada penggemarnya. Padahal dia punya keluarga. Benar ga apa yang gue bilang? Damar Pamilih wara wiri ke masa lalu dan langsung pada pertanyaan yang tepat di tanyakan pada calon istrinya ini.&lt;br /&gt;     “ Rasa yang kita miliki kan ga mungkin kita paksain kepada lawan jenis kita Mar... Kaya rasa yang gue punya untuk lo dua belas tahun yang lalu. Lo udah bisa bersikap baik aja ama gue. Gue udah bahagia banget. Bisa nongkrong bareng saat kita pulang kerja. Tapi, dari mana lo tau hubungan gue ama Elang?” tembak Ria.&lt;br /&gt;     “ Ria... Inilah yang membuat gue sayang ama lo. Lo lugu banget sih! Sejak gue tinggal di sini. Gue sering telepon Alex. Alex yang kasih info semua tentang lo. Ria... Maaf ya udah buat lo jadi seperti ini.” Damar Pamilih sangat merasa bersalah.&lt;br /&gt;     Karena memendam rasa kepadanyalah Ria jadi jatuh cinta kepada Elang. Elang yang mapan dalam sepak terjangnya sebagai penulis maupun arjuna bersama penggemarnya. Alex pula lah yang pernah punya usul ke Ria untuk mengunjungi Damar Pamilih ke Yogyakarta. &lt;br /&gt;     “ Gue merasa dapat segalanya dari Elang Mar... “ Ria berkata lirih bersama air matanya yang menetes.&lt;br /&gt;     “Ssttt... Calon istri gue masih jago di lapangan hijau kan? Damar Pamilih menghibur Ria ke arah hobby lamanya bersama Ria.&lt;br /&gt;     “ Orang hamil boleh ya main bola? Jadi kangen ama lapangan bola di Kedubes Malaysia hehehe... Ria tersenyum mengenang masa lalunya bersama Damar saat tim nya kehilangan posisi kiper. Ria lah yang di tugaskan mengisi kekosongan posisi itu.&lt;br /&gt;     “ Sabar sampai bayi kita lahir ya? Damar Pamilih tergelak oleh leluconnya sendiri.&lt;br /&gt;     “ Gue seperti mimpi saat ini. Ga tau harus marah atau ga ama Elang saat ini. Gue bahagia banget saat ini. Bisa ketemu orang yang hilang satu darsa warsa. Ketemu pujaan hati yang gue pikir bertepuk sebelah tangan. Plus dapat bonus bayi ini.” Ria mengusap pipinya yang mulai basah karena air matanya turun lagi.&lt;br /&gt;     “ Gue udah telepon Elang dan mengundang dia untuk datang ke pernikahan kita bulan depan. Jangan banyak bertanya. Jangan telepon atau sms Elang lagi ya?” Damar memohonnya dengan sangat sambil menyerahkan sim card yang baru dia beli tadi.&lt;br /&gt;     “ Ganti nomor? Gue ga mau. Gue janji ga kan telepon dan sms dia lagi. Swear!” janji Ria sambil memberikan dua jarinya.&lt;br /&gt;     “ Ok.” Damar Pamilih mengangguk tanda setuju.&lt;br /&gt;     Sepulang dari pasar mereka mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta. Ria seperti menemukan kembali rasa yang hilang dalam beberapa waktu yang lalu. Ria sudah mengabari Rani tentang pernikahan yang akan segera di laksanakan bulan depan lewat sms. Rani sangat bahagia. Apalagi yang menjadi calon suami Ria bukan Andri. Orang yang sangat dicintai Rani. Tante Helmi pun tak kalah bahagia dari Rani. Tante Helmi yang selama ini sudah seperti ibu kandung Ria. Tidak ada lagi ruang pemisah antara Ria dan Rani. Andri si Minak Jinggo merasa kecewa dengan keputusan yang di ambil Ria. Andri berpikir Ria terlalu cepat dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;     “ Hallo nduk apa kabar?” suara Elang menyapa Ria. Ria yang sedang berada di gerbong kereta segera memberikan telepon genggamnya kepada Damar Pamilih.&lt;br /&gt;     “ Maaf, saya Damar Pamilih calon suami Ria. Siapa ini? Damar Pamilih menjawab mengambil alih calon istrinya menjawab telepon selular miliknya.&lt;br /&gt;     “ Saya Elang mas. Maaf ya kalau boleh tahu, setahu saya Ria tidak punya pacar selama ini.” Elang heran dibuat penasaran oleh Damar Pamilh.&lt;br /&gt;     “ Ria hamil mas Elang. Saya sangat mencintai Ria mas. Saya akan mengambil alih tanggung jawab orang yang tlah berbuat tidak adil terhadap masa depannya.&lt;br /&gt;     “ Hamil?” Elang terkejut. Bola matanya hampir keluar dari tempatnya karena rasa tidak percaya. Elang pasti masih ingat peristiwa beberapa bulan lalu. Elanglah yang mengambil madu milik Ria. Hingga Ria Hamil.&lt;br /&gt;     “ Ya. Eh, mas Elang kita akan undang ke pernikahan kita juga loh.” Damar Pamilih langsung mengundang Elang saat itu juga.&lt;br /&gt;     “ Ok. Insya Allah saya akan datang mas. Maaf mas. Saya cuma mau titip pesan untuk Ria. Saya minta ijin kiranya jika Ria di ijinkan untuk menemui saya di Lobby Hotel Borobudur setibanya saya di Jakarta. Besok.” ujar Elang menitip pesan kepada Damar Pamilih.&lt;br /&gt;     “ Insya Allah akan saya ijinkan Ria datang menemui anda besok. Setibanya kami di Jakarta. Karena saat ini kami berada perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta.” Damar Pamilih menjawab dengan penuh bijaksana dan hormat.&lt;br /&gt;     “ Pernah kepikiran ga untuk ketemu sama Elang lagi?” Damar Pamilih menggenggam tangan Ria penuh kasih.&lt;br /&gt;     Ria menggeleng lemah. Ada ketakutan tersendiri dalam dirinya. Ria takut tak bisa lepas dari Elang. Ria sudah berusaha melupakan tentang Elang. Dengan adanya Damar Pamilih yang akan segera menjadikan dirinya seorang istri. Ria merasa cukup untuk menyudahi perjalanan kisahnya dengan Elang.&lt;br /&gt;     “ Lo ga takut gue ketemu Elang lagi?” tanya Ria penuh selidik kepada Damar Pamilih.&lt;br /&gt;     “ Gue percaya ama lo. Meskipun gue yakin rasa lo masih ada untuk Elang.” Damar Pamilih tersenyum sambil tangannya mengacak-acak rambut Ria dengan rasa sayang.&lt;br /&gt;     “ Itulah yang membuat gue takut untuk datang menemuinya.” raut wajahnya langsung di sapu mendung.&lt;br /&gt;     “ Yakinlah dengan yang terjadi adalah atas kuasaNya.” sebijaksana mungkin Damar Pamilih mengatakan hal yang sesungguhnya sangat berlawanan dengan warna hatinya.&lt;br /&gt;     “ Atas kuasaNya jugakah gue merusak rumah tangga orang lain?” Ria menatap Damar Pamilih tajam menunggu jawaban.&lt;br /&gt;     “ Manusia adalah ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna. Akal diciptakan Tuhan untuk mencari jawaban itu. Jangan munafik jika rasa itu masih ada. Gue akan tetap bersama lo.” Damar Pamilih berusaha menenangkan jiwanya yang terasa sedang berlari di tempat.&lt;br /&gt;     “ Thank you ya Mar...” seketika itu Ria memeluk Damar Pamilih dengan sejuta kehangatan.&lt;br /&gt;     “ Hahaha... Ga salah nih? Ria yang tomboy, cuek, yang pintar dalam menyimpan rasa bisa mengungkapkan rasanya ke gue.” Damar Pamilih mencoba bersikap santai saat di peluk Ria. Walaupun dalam hatinya seperti sedang di siram air. Sejuk.&lt;br /&gt;     “ Dodol lo!” Ria pura-pura marah. Tapi, langsung sumringah saat Damar Pamilih membalas pelukannya.&lt;br /&gt;     “ Gue ga pernah sebahagia ini Mar. Bisa menumpahkan segala rasa yang gue punya kepada orang yang tepat.” akhirnya air itu meleh dengan sendirinya dari mata Ria.&lt;br /&gt;     “ Jadikanlah sabar dan sholat penolong kita.” Damar Pamilih menyikapi air mata Ria.&lt;br /&gt;     Damar Pamilih mencoba untuk bijaksana sedemikian rupa. Damar Pamilih yang mengerti bahwa Ria belum sepenuhnya bisa melupakan Elang. Apalagi di gua garbanya Elang menitipkan benih yang akan segera jadi orang yang berarti bagi kehidupan Elang dan Ria. Damar sangat terganggu dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Ria juga sedang belajar mencintai Damar Pamilih seperti rasa yang Ria punya dua belas tahun yang lalu.&lt;br /&gt;     Setibanya di Jakarta. Ria segera istirahat. Melepaskan penat yang ada. Ria yang berada di tempat kost yang baru. Sedangkan Damar Pamilih segera mengunjungi orang tuanya untuk segera meminta ijin dan restu. Agar bisa segera menikahi Ria secepatnya.&lt;br /&gt;     “ Hallo Ria! Sedang apakah? Mau di antar ke tempat Elang sore ini?” Damar membuka percakapan di telepon genggamnya.&lt;br /&gt;     “ Hallo juga koslet heheheh... lagi di telepon nih! Eh. Mau dong di antar. Takut ga mau pulang kalau sendiri ketemu Elangnya.” jawab Ria polos.&lt;br /&gt;     “ Mau ke tempat Elang jam berapa?” Damar langsung ke topik utama.&lt;br /&gt;     “ Sekarang aja. Elang pasti udah sampai Jakarta!” Ria menjawab tangkas. Ria ingin sekali masalahnya bersama Elang segera selesai.&lt;br /&gt;     “ Ok! Gue jemput sekarang ya?” Damar menjawab dan langsung segera menyudahi pembicaraan telepon selularnya saat itu juga.&lt;br /&gt;     Akhirnya saat yang di tunggu datang juga. Ria bertemu Elang. Elang, sosok yang mencuri hatinya beberapa waktu terakhir ini. Yang menyita jiwa raga maupun lahir dan bathin Ria. &lt;br /&gt;     “ Apa kabarmu nduk?” sapa Elang lirih.&lt;br /&gt;     “ Kabarku baik.” Ria menjawab setenang mungkin.&lt;br /&gt;     “ Kapan kamu mau menikah? Elang bertanya langsung. Elang yang sangat berat mengetahui bahwa Ria telah mengandung hasil karyanya.&lt;br /&gt;     “ Kalau Allah mengijinkan bulan depan. Datang ya?” Ria mencoba untuk tidak meneteskan air matanya. Karena rasanya terhadap Elang masih begitu sangat besar.&lt;br /&gt;     “ Aku pasti datang nduk. Karena aku yang akan menikahimu. Karena yang kamu kandung itu anakku.” Elang menatap Ria dengan wajahnya yang bodoh.&lt;br /&gt;     “ Maksudnya?” Ria sampai terbatuk-batuk mendengar perkataan Elang.&lt;br /&gt;     “ Kenapa kamu ga pernah bilang kalau kamu hamil? Kamu berpikir akan merusak rumah tanggaku? Rumah tanggaku sudah beberapa tahun ini telah kandas sebelum kita berhubungan. Nduk, apakah kamu ndak pernah berpikir kalau aku punya rasa yang sama? Rasa takut kehilangan yang sama besar seperti rasa yang kamu punya.” Elang menjelaskan dengan mimik yang seakan tidak rela bahwa Ria akan segera menikah dengan orang lain.&lt;br /&gt;     “ Tapi, yang aku baca di buku kalau kamu telah memiliki keluarga.” Ria mencoba mencari tahu kebenaran yang di ucapkan Elang.&lt;br /&gt;     “ Apakah riwayat penulis itu telah bercerai juga harus dicantumkan di sebuah buku?” Elang justru balik bertanya.&lt;br /&gt;     “ Menikahlah denganku nduk... Aku membutuhkanmu dalam hidupku nduk.” Elang menatapnya pekat yang membuat Ria menunduk.&lt;br /&gt;     “ Ya Allah... Seindah inikah rasa yang kupunya untukmu? Semudah inikah aku bisa memilikimu? Atau hanya di ruang imajinasi saja aku berada saat ini.” Ria berkata seraya bertanya kepada Elang.&lt;br /&gt;    “ Nduk... sebelum kita bertemu di sini. Damar Pamilih calon suamimu telah mendahului diri menemuiku. Dia sangat mencintaimu. Dia lebih mengerti kamu dari pada dirimu sendiri. Menikahlah denganku nduk.” pinta Elang dengan suara yang tersekat.&lt;br /&gt;     “ Damar Pamilih?” Ria bertanya kepada Elang.&lt;br /&gt;     “ Ya. Dia telah kembali ke Yogyakarta hari ini. Dia mengembalikanmu padaku. Jawablah pertanyaanku nduk?” Elang menunggu jawaban Ria dengan penasaran.&lt;br /&gt;     “ Apakah aku tidak akan melukai perasaan orang di luar sana?” Ria balik bertanya.&lt;br /&gt;     “ Melukai orang mencintaimu jelas ya. Tapi, tidak akan melukai orang yang berada di sekitarku. Jika yang kau maksud adalah mantan istriku.” seloroh Elang dengan tergelak.&lt;br /&gt;     Mimipikah aku di ujung rasa ini? Rasa dan tulisan satu tujuan menghampiri cerita melibas makna yang ada. Memproklamirkan isi hati yang tertuang dalam isi tinta sang pena. Secarik kertas menjadi saksi bisu dari tinta yang tertuang. Namun, rasa tak pernah bisa menyampaikan rasanya sendiri. Sang pena hanya terbungkam menghampiri rasa. Berkutat dalam penatnya isi hati yang tertuang di secarik kertas. Meskipun gundah gulana telah menyingkir dan rasa bahagia datang. Tetap hambar di tanganmu Damar Pamilih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-8225431402636650218?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/8225431402636650218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/03/ria-ingin-sekali-beranjak-pergi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/8225431402636650218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/8225431402636650218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/03/ria-ingin-sekali-beranjak-pergi.html' title='Rasa Ri'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-1902510887600177651</id><published>2010-02-17T06:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T14:54:41.500-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Meski yang terbilang saat ini rasa indah. Tapi, yang tercipta di dasar hati hanya kerak luka. Menelusuri malamnya kota Yogyakarta. Di guyur hujan deras tak bisa mengungkungku di sekat pembatas untuk melanglang buana di alam nyata. Bahwa banyak asa yang terbentang di alam raya. Pangeran pujaan hati yang setia berada di setiap langkah. Mengikuti rasa yang tergerak di dengkulku saat ini. Harus ada sebuah hari yang indah untukku. Membuat hati terpenjara adalah sebuah sebuah kebodohan yang kerap singgah di dengkul. Walaupun sekat pembatas di terpa udara. Dengan kecepatan standar motor melibas derasnya hujan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-1902510887600177651?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/1902510887600177651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/meski-yang-terbilang-saat-ini-rasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/1902510887600177651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/1902510887600177651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/meski-yang-terbilang-saat-ini-rasa.html' title=''/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-9028061420579489395</id><published>2010-02-14T20:11:00.001-08:00</published><updated>2010-02-23T20:25:11.243-08:00</updated><title type='text'>Ciumanmu</title><content type='html'>Nafasmu membuat aku rindu. Harum tubuhmu membuatku terhempas dalam lamunan panjang tentang kamu. Sedang apakah dirimu kini Pangeranku. Tidakkah engkau mengerti aku berada di ujung cintamu. Ingatkah tentang impian kita? Impian bahwa kau akan trus bersamaku. Apapun yang terjadi... Kau selalu memeluk ku hangat di antara gelak tawamu. Cintaku... Ingatkah akan ciumanmu ketika mataku berkaca-kaca... Tak ada lagi tatapan mata elangmu untukku. Semua lagu cinta ku berikan untuk dirimu... Andai aku sunan ambu aku akan meminta Sang Hyang Tunggal untuk mengembalikan dirimu padaku. Jadilah pangeran yang akan menungguku di surga. Maaf atas segala kekuranganku. Aku bukan ibu yang sempurna. Ciumanmu yang selalu membuat tanda biru di pipiku. Aku kangen semua itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-9028061420579489395?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/9028061420579489395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/ciumanmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/9028061420579489395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/9028061420579489395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/ciumanmu.html' title='Ciumanmu'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-6232045861563640839</id><published>2010-02-01T22:37:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T22:39:21.538-08:00</updated><title type='text'>It's Real...</title><content type='html'>Aku terbangun pagi ini dengan fisik terburuk ku. Aku mencoba untuk mandi demi menghindari pertanyaan keluargaku tentang aku. Kenapa demam ini tidak segera reda walau pun sesaat? Tiba-tiba seseorang yang aku kenali suaranya menghubungiku. Maklum kami pernah hidup bersama. Dia ingin menemuiku. Ah... untuk apa lagi bertemu. Masih ingat rasanya saat Dia tidak mau menemui Pradhabasuku. Entah mengapa aku menyetujuinya untuk bertemu. Aku pun bersiap-siap agar tidak telat bertemu dengannya. Tidak lupa aku membawa sebuah belati yang sering aku bawa jika aku menemuinya. Jujur... Aku sangat ingin membunuhnya. Rasa itu tak pernah surut meskipun waktu telah usang. Setelah kami bertemu ada rasa yang membuncah. Aku tak kan pernah bisa menatap mata yang paling aku benci di dunia ini. Dia memulai membuka pembicaraan. Aku memahaminya. Aku tahu saat ini di sedang memendam kecewa yang saat mendalam. Dia meneteskan air mata saat di akhir cerita. Tapi, aku malah senyum mengejek. "air mata bukan hanya menggambarkan kesedihan loh! Bisa jadi semua ini hanya perangkap untuk lawan bicaranya." Dia menatapku tajam. Aku pun menatapnya lebih dari yang dia bayangkan. "Kamu berubah. Biasanya kamu selalu ceria menemuiku. Saat ini marahmu menyadarkan aku akan sikapku yang memuakan. Bertahun-tahun akumenyiksamu dengan wanita yang hilir mudik datang dalam kehidupanku, Memaksamu melihat yang seharusnya tidak layak kau lihat. Meskipun tersiksa tapi, kamu tetap bertahan untuk nama baik keluarga dan anak-anak. Sampai pada saat yang menurutku saat ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Membawanya bermalam di rumah kita. Mengajaknya tidur di peraduan kita. Yang aku tahu. Matamu sulit terpejam oleh desahan manjanya. Ri... Maafkan aku. Aku tahu aku hanya memberimu begitu penderitaan yang teramat panjang. Maaf, membuatmu menderita selama hidup bersamaku." dia tertunduk. "Lupakanlah yang telah terjadi di antara kita. Aku sudah lelah dengan kehidupan. Meskipun hidup ini indah. Itu hanya pola dariNya. Jangan menemui aku lagi. Meskipun kamu datang dengan berjuta keindahan. Aku sudah tidak tertarik. Biarkanlah aku pada duniaku saat ini. Oh ya, aku lupa bahwa jangan memanggilnya dengan REZA. Namanya sudah aku ganti sejak dia lahir. Aku memberinya nama Reifan Maulana Pradhabasu." aku menarik nafasku. "Pradhabasu suamimu yang baru?" dia memburu pertanyaan. "Pradhabasu yang siap membunuh dirimu. Dia amat terluka disaat kamu tidak berkenan menemuinya. Aku tak pernah melarang dia untuk membunuhmu." jawabku ketus. "Sebenci itukah kamu Ri?" dia menyentuh kedua tanganku. "Aku tak pernah sekeji dalam bayanganmu." terasa panas air mataku karena demamku yang tinggi pagi ini. "Kamu bajingan yang pernah aku temui. Kau siksa aku dengan para wanitamu. Di kala aku hamil kau meninggalkanku. Di saat aku akan melahirkan dengan keadaan Pradhabasu posisi melintang dalam rahimku. Kamu hanya berkata "Kalau cecar abi ga mau bayar rumah sakitnya". Binatang aja ga pernah segila itu." Aku coba untuk meredam amarahku pagi ini. Karena kondisiku lebih buruk dari yang aku bayangkan. "Ri, aku ingin bertemu dengannya." katanya dengan tampang terbodohnya. "Jangan ulangi kata-kata itu lagi. Persetan kamu ML di hadapanku. Meski aku tersiksa dan hampir gila karena perbuatanmu yang lalu. Tapi, Demi Tuhan jangan temui dia." aku berteriak sekuat tenagaku. Orang di sekeliling pun melihat kemarahanku. "Sudah cukup kau beri aku rasa ini. Sampai aku tak pernah bisa lagi bisa membedakan rasa benci dan cinta untuk seseorang. Karena kamu hampir membuat aku gila. Biarlah Pradhabasuku hanya bisa mengenal aku. Aku sudah bilang bahwa kamu sudah mati. Meskipun dia tidak pernah percaya apa yang aku ungkapan." kataku berakhir dengan isakan. "Ri, setega itukah kamusaat ini? dengan pandangan kosong dia menatapku. "Aku yakinkan satu ha. Kamu akan bertemu dengannya pada saat yang tepat. Saat dia akan membunuhmu." aku berlari meninggalkan dirinya. Aku benci hari ini. Benci dengan segala yang terjadi hari ini. Aku hanya berdoa. Agar Pradhabasu tidak menemui ayahnya. Maaf jika harus begini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-6232045861563640839?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/6232045861563640839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/its-real.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/6232045861563640839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/6232045861563640839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/its-real.html' title='It&apos;s Real...'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-6345726420440354647</id><published>2010-02-01T21:52:00.000-08:00</published><updated>2010-02-03T19:33:30.842-08:00</updated><title type='text'>RA Kartini</title><content type='html'>Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan Indonesia karena memperjuangkan cita-citanya untuk mewujudkan persamaan hak pria dan wanita. Atas jasa-jasanya, tanggal kelahirannya 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Pahlawan wanita tidak hanya RA Kartini. Sebelum kebangkitan Nasional ada Cut Nyak Dien pahlawan wanita yang berasal Lampadang, Aceh. Cut Nyak Muthia kelahiran Pirak, Keureutoe, Aceh Utara. Christina Martha Tiahahu berasal dari Nusa Laut, Maluku. Nyi Ageng Serang kelahiran Serang, Purwodadi. Hj. Rasuna Said dari Maninjau, Sumatera Barat. Fatmawati Soekarno yang di lahirkan di Pasar Padang Bengkulu. Hj. Siti Hartinah Soeharto mendiang istri Presiden Republik Indonesia ke II. Raden Dewi Sartika dari Bandung. Nyi Ahmad Dahlan dari Yogyakarta. Maria Walanda Maramis dari Kema, Sulawesi Utara. Di antara begitu banyak pahlawan wanita di Indonesia. Kenapa hanya RA Kartini yang mendapat tempat istimewa di Indonesia? RA Kartini hanya mengahabiskan waktunya dengan membaca dan menulis surat kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda. Tidak ada kisah yang menarik yang patut menjadikannya seorang pahlawan wanita yang harus di istimewakan dari pahlawan wanita yang lainnya. Christina Martha Tiahahu telah ikut berperang mendampingi ayahnya. Christina juga sempat menguasai Benteng Beverwijk ketika itu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Mengenal pahlawan nasional bukan berarti sekedar hafal nama dan tanggal lahir mereka. Tetapi, mengerti kisah perjalanan jasa-jasa mereka terhadap bangsa ini.&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Kartini telah lama di jadikan sosok wanita penggerak emansipasi di Indonesia. Itu sudah tidak di ragukan lagi Seluruh orang tahu tentang itu. Namun seberapa jauhkah perjuangan Kartini di banding pejuang wanita lainnya mada masanya dulu? Cut Nyak Dien yang lebih menguasai dan terjun langsung membela ke utuhan bangsa ini kenapa tidak di jadikan hari besar ya? Menurut pandangan saya Kartini hanya menuliskan keluh kesahnya saja. Di bandingkan Dewi Sartika, Kartini tidaklah sebanding. Dewi sartika adalah salah satu pendiri organisasi perempuan pada masanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-6345726420440354647?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/6345726420440354647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/ra-kartini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/6345726420440354647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/6345726420440354647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/02/ra-kartini.html' title='RA Kartini'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-7434708222999301038</id><published>2010-01-31T20:30:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T20:44:13.693-08:00</updated><title type='text'>kosong</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Dimanakah rasa itu kini? Tak pernah kutemukan lagi engkau di jiwa ini. Telah bosankah rasa berpijak di ragaku? Jawabnya hanya setes air mata. Terdiam mencari sepatah kata yang tak bertuan. Ingin aku terus berada di sisimu. Namun, rasa tak mengijinkan raga ini. Meski rasa ini terus menghujam jiwa dari ketenangan hati. Ingin aku segera pergi dari hidupmu. Membiarkan jiwaku kering dari rasa. Aku tersiksa dengan rasaku sendiri. Terkoyaknya bathin tak bertuan. &lt;/span&gt;Mencintalah dari jauh, melayarkan rindu yang tak pernah kunjung berlabuh. Sayangi dirinya tanpa membuatnya merasa terganggu. Panjatkan do'a untuknya, walau dia tak pernah tau, memohonkan bahagia untuknya, walau kebahagiaan itu dibaginya bukan denganku... Ada apa dengan rasaku saat ini? Kenapa rasa ini begitu cepat mengalun di sanubariku? Meskipun hari ini bisa tergelak. Tapi, rapuh akan rasa tetap bersemilir di ruang hati. Aku tetap menapaki jalan yang tak berujung. Dengan langkah gontaiku. Aku menuju stasiun untuk memesan tiket menuju Yogyakarta hari ini. Ada rasa teriris di jiwa. Haruskah aku di persimpangan seperti ini? Aku mencoba tersenyum saat wajahnya terlintas di benakku. Aku tersenyum simpul. Anak itu pasti bisa meskipun aku tidak ada di sampingnya. Aku harus bisa menata hati kosongku agar bisa trus bersama Pradhabasu. Ada segelintir rasa rindu menyelinap. Aku menarik nafasku yang sempat terhenti karena sesak menahan rasa yang ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-7434708222999301038?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/7434708222999301038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/dimanakah-rasa-itu-kini-tak-pernah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/7434708222999301038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/7434708222999301038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/dimanakah-rasa-itu-kini-tak-pernah.html' title='kosong'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-1581674308426889064</id><published>2010-01-24T20:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T20:31:20.786-08:00</updated><title type='text'>Kasih</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jangan kau beri rasa ini. Rasa yang akan menyiksa aku dalam pengembaraan hidup. Kau beri aku rasa bersalah yang membuat aku mati rasa. Aku takut dengan rasa yang ada. Aku mengerti sebab akibat rasa ini menjadi lara. Biarkan aku menggapai imajinasimu. Melepasmu hidupku terasa hambar tak berbumbu. Terluka kah aku dengan rasa yang aku punya sejak hari ini. Di antara bias kasihmu untuk ku. Tidak kau mengerti ketulusan yang aku punya. Rasa ini ada sebelum aku bertemu dirimu. Imajinasiku terlalu tinggi sampai aku bisa menembus reinkarnasi berikutnya. Biarlah rasa ini menepi dari kesendirianku. Aku sudah cukup bahagia berada di antara bayang kasihmu untukku. Bersamamu seperti melewati cakrawala. Takut waktu segera berlalu. Mencintaimu laksana menjadi puragabaya. Yang harus meredam rasa yang aku punya. Yang hadir tidak pada tempatnya. Bersamamu begitu indah. Meski sang waktu trus berlari mengejar akhir...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-1581674308426889064?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/1581674308426889064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/kasih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/1581674308426889064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/1581674308426889064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/kasih.html' title='Kasih'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-7268867046472849126</id><published>2010-01-22T15:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T15:58:24.740-08:00</updated><title type='text'>universal rasa</title><content type='html'>R&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;asa dan tulisan satu tujuan mengghampiri cerita melibas makna yang ada. Memproklamirkan isi hati yang tertuang dalam isi tinta sang pena. Secarik kertas menjadi saksi bisu dari tinta yang tertuang. Namun, rasa tak pernah bisa menyampaikan rasanya sendiri. Sang pena hanya terbungkam menghampiri rasa. Berkutat dalam penatnya isi hati yang tertuang di secarik kertas. Meskipun gundah gulana telah menyingkir dan rasa bahagia datang. Tetap hambar dalam cerahnya hati. Fatamorgana sering memaksa sebuah profile untuk menyilangkan rasa. Jangan pernah berlari dari rasa yang ada. Rasa adalah universal untuk semua mahkluk yang ada.Tak kan terbentuk rasa jika insan hambar dari kehidupan. Mengerti rasa merupakan kebijakan hidup. Mengetahui kelemahan orang lain adalah pandai. Mengerti kekurangan diri sendiri adalah bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-7268867046472849126?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/7268867046472849126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/r-asa-dan-tulisan-satu-tujuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/7268867046472849126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/7268867046472849126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/r-asa-dan-tulisan-satu-tujuan.html' title='universal rasa'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-3964508937239822481</id><published>2010-01-21T20:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-21T21:31:07.641-08:00</updated><title type='text'>Isi hati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Nelangsa melewati batas waktu yang akan memisahkan dua insan. Mencari tempat persinggahan hati yang lara. Ku titipkan penat hatiku di antara pesan yang tertinggal. Meraih asa di himpitan rasa yang gamang. Tak bisa membaca kosa kata yang ku terima di antara rasa yang mendera. Lebih baik kembali ke garba sang bunda. Jika tak mengerti arah laranya hati yang terhempas. Berpacu dengan kecepatan. Menggilas waktu kepenatan. Berlari mengejar impian melalui kepakan sayap yang tersayat. Berkutat dengan waktu. Berjuang untuk kehidupan. Berlari dari bayangan semu. Menghampiri yang terjadi. Membunuh rasa yang ada. Jangan kau hadir saat ini. Jiwaku hambar dari rasa. Imajinasi yang terisolasi luka. Gerimis pagi mengundang rasa tak terbilang. Langkah menapaki pagi yang menyilangkan rasa yang ada. Mengusir rasa yang membuncah. Rasa segera lari tak terperi. Rasa sibuk terus berlari tanpa tahu dimana dia harus singgah. Berharap rasa tak pernah lagi singgah di raga ini. Biarkan nyawa ini tanpa rasa yang seharusnya. Biarlah rasa tak pernah berpijak di badan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-3964508937239822481?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/3964508937239822481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/isi-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/3964508937239822481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/3964508937239822481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/isi-hati.html' title='Isi hati'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-4129774353322249524</id><published>2010-01-19T21:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T22:13:36.687-08:00</updated><title type='text'>Gemar Membaca</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Membaca bagi yang tidak suka membaca adalah hal yang membosankan. Namun, untuk para yang hobi, membaca adalah hal yang paling di tunggu-tunggu. Percaya atau tidak bahwa membaca sering kali dapat menghilangkan kepenatan yang terjadi dalam hidup. Membaca untuk di jadikan hobi memang sulit. Apalagi bagi mereka yang tidak suka baca. Dengan seiring waktu membaca bisa di jadikan teman dalam membunuh waktu dalam menunggu. Jadikanlah membaca sebuah teman hidup. Yang memang selalu di butuhkan kemana, dimana, dan kapan. Intelektualnya seseorang bisa di nilai dari seberapa orang tersebut memiliki wawasan dalam membaca. Penulis saja tidak akan dapat menulis jika pada intinya mereka tidak bisa membaca. Membaca adalah pengetahuan dasar manusia untuk bisa menjadi tolak ukur seseorang menjadi pandai. Dengan membaca pada awal yang terlihat terpaksa. Namun waktu akan memberi tahu dengan membaca kita bisa melakukan segala hal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-4129774353322249524?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/4129774353322249524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/gemar-membaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/4129774353322249524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/4129774353322249524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/gemar-membaca.html' title='Gemar Membaca'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2333890696595939790.post-389408256187829739</id><published>2010-01-19T20:17:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T20:43:17.806-08:00</updated><title type='text'>Mahamantrimukya Rakrian Mahapatih Pu Mada</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang aku lakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Seharusnya pejabat negara saat ini bisa seperti Gajah Mada. Rela melakukan apa saja demi mempersatukan nusantara. Jangan hanya bisa menghujat yang satu untuk melindungi yang berkepentingan. Pada eranya Pasukan Bhayangkara yang hanya sekitar seratus orang dan akhirnya menyusut menjadi sepuluh orang. Bisa menjaga keamanan Majapahit yang terkenal di nusantara. Saat ini Pasukan Bhayangkari yang seharusnya bisa lebih hebat dari Bhayangkara. Di lihat dari segi aspek apapun pasti lebih maju dari Bhayangkara. Namun, dari segi apapun Pasukan Bhayangkari saat ini hanya sebuah wibawa semata di Indonesia. Masyarakat hanya takut di depan saja. Di belakang mereka mencibir. Terlalu banyak tindakan yang tidak sejalan dengan yang di inginkan masyarakat saat ini. Bukan keamanan yang kita dapat. Malah rasa takut yang kerap hinggap. Terkadang miris melihat semua yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2333890696595939790-389408256187829739?l=pradhabasu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pradhabasu.blogspot.com/feeds/389408256187829739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/mahamantrimukya-rakrian-mahapatih-pu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/389408256187829739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2333890696595939790/posts/default/389408256187829739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pradhabasu.blogspot.com/2010/01/mahamantrimukya-rakrian-mahapatih-pu.html' title='Mahamantrimukya Rakrian Mahapatih Pu Mada'/><author><name>endang maulana sari pradhabasu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08881157838003149420</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_VfS-a7AGb8U/TCMNycT8YOI/AAAAAAAAADY/XceBa7gFsUg/S220/Image0329.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
